Total Tayangan Halaman

Minggu, 08 Januari 2012

REFLEKSI KELOMPOK 8

METODE ANALISIS VEGETASI
Kelompok 8  terdiri dari Hattahin, Dista ariyani, Rita kurniati dan nurlaila menjelaskan tentang nalisis vegetasi :
Berdasarkan penjelasan pemateri analisis vegetasi  diartikan seebagai suatu cara mempelajari susunan  atau komposisi vegetasi secara bentuk (struktur) vegetasi dari kumpulan  tumbuh-tumbuhan. Metodologi Analisis Vegetasi terdiri atas tiga macam yaitu : Metode Destruktif, Metode Florostika, Metode Non Floristika. Metode Destruktif :  Metode ini umumnya dilakukan untuk bentuk bentuk vegetasi yang sederhana, dengan ukuran luas pencuplikan antara satu meter persegi sampai lima meter persegi. Metode Florostika:  Metode ini  mengungkapkan vegetasi berdasarkan bentuk hidupnya, jadi pembagian dunia tumbuhan secara taksonomi sama sekali di abaikan, metode ini membuat klasifikasi tersendiri dengan dasar-dasar tertentu. Metode Non Floristika : Metode ini dapat menentukan kekayaan floristika atau keanekaragaman dari berbagai bentuk vegetasi.
Selain metode diatas  pemateri menambahkan pula jenis metode yang lain yang sudah kami laksanakan pada saat praktikum lapang, yaitu : Metode Garis, Metode titik,dan Metode kudrat.Metode Garis  merupakan suatu metode yang menggunakan cuplikan berupa garis. Penggunaan metode ini pada vegetasi hutan sangat bergantung pada kompleksitas hutan tersebut.  Metode titik pada metode ini tumbuhan yang dapat dianalisis hanya satu tumbuhan yang benar-benar terletak pada titik-titik yang disebar atau yang diproyeksikan mengenai titik-titik tersebut. Metode kudrat Metode ini menggunakan petak. Metode ini meliki 4 jenis yaitu : Liat quadrat, Count/list count quadrat, Cover quadrat (basal area kuadrat) , dan Chart quadrat
Diskusi kali ini pemateri membuka 3 pertanyaan. Pertanyaan pertama dari Prieska tentang hutan primer dan hutan sekunder, pemateri menjawab : hutan primer merupakn hutan yang masih alami sedang sekunder sudah dijamh oleh manusia.Pertanyaan kedua saya diberi kesempatan untuk bertanya, saya menanyakan tentang sebuah peta vegetasi yang ditanyangkan dalam presentasi, pada peta vegetasi tersebut menggunakan metode analisis vegetasi apa? Pemateri menjawab pada  peta vegetasi yang disajikan menggunakan metode nonforestika dimana metode ini dapat menentukan kekayaan floristika atau keanekaragaman dari berbagai bentuk vegetasi. Pertanyaan ketiga dari fitri tentang metode mana yang lebih efien untuk digunakan apakah metode garis ataukah kuadrat? Hatta menjawab  bahwa metode yang paling efisien digunakan adalah metode garis, karena merupakan suatu metode yang menggunakan cuplikan berupa garis. Penggunaan metode ini pada vegetasi hutan sangat bergantung pada kompleksitas hutan tersebut. Dalam hal ini, apabila vegetasi sederhana maka garis yang digunakan akan semakin pendek”.
Dalam hal ini saya kurang setuju pada pernyataan pemateri tentang jawaban pertanyaan kegita dari fitri soal metode yang efisien yang digunakan. Saya berpendapat semua metode yang  baik berupa garis maupun kuadrat pada dasarnya sudah sama sama efisien, akan tetapi bergantung pada kondisi hutan serta tujuan dilaksanakan analisis vegetasinya. Metode manapun yang dipilih yang penting adalah harus disesuaikan dengan tujuan  kajian, luas atau sempitnya yang ingin diungkapkan, keahlian dalam bidang botani dari pelaksana.

Sabtu, 31 Desember 2011

“TUMBUHAN BERKHASIAT OBAT DI INDONESIA”


Tapak Liman
Elephantopus scaber L.
Klasifikasi ilmiah
Kingdom         : Plantae (Tumbuhan)
Super Divisi    : Spermatophyta (Menghasilkan biji)
 Divisi              : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
 Kelas              : Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
Sub Kelas        : Asteridae
 Ordo               : Asterales
 Famili             : Asteraceae
Genus              : Elephantopus
 Spesies           : Elephantopus scaber L.
Sumber            : http://www.plantamor.com/index.php?plant=522
Uraian Tanaman :
Tapak liman merupakan tanaman jenis rumput-rumputan yang tumbuh sepanjang tahun, berdiri tegak, berdaun hijau-tua. Daun rendahan berkumpul membentuk karangan di dekat akar-akar, dengan tangkai yang pendek; bentuknya panjang sampai bundar telur, berbulu, bentuknya besar sekitar 4-35 x 2-7cm. Bunganya berwarna merah-ungu, terbagi menjadi lima bagian dan mulai muncul sekitar bulan April sampai Oktober. Bunganya mekar antara Jam 13-14 siang, dimana bunganya siap untuk dibuahi oIeh serangga, dan sekitar jam 16 bunga telah tertutup kembali.Bunganya berwarna ungu dan tumbuh dari jantung daun. Pada tumbuhan ini terjadi pembuahan dini. Akar pada tanaman ini besar, kuat dan berbulu seperti pohon sikat.
Nama lain :

Sumatera         : Tutup bumi
Jawa                : Balagaduk, jukut cangcang-cangcang, tapak liman
Madura            : Talpak tana
Inggris             : Scabrous elephant's foot, prickly-leaved elephant's foot
Cina                 : Ku di dan, di dan cao

Kandungan Kimia :

Daunnya          : Elephantopin, deoxyelephantopin, isodeoxyelephantopin, dll. Juga terdapat stigmasterol turunan steroid yang dapat memacu gairah seksual.
Bunga              : Flavonoidaluteolin-7-glucosida dan akar mengandung epiprielinol. Lupeol dan stigmasterin.

Efk farmakologi  :

Tapak liman yang mempunyai rasa pahit, pedas, dan menyejukkan ini berkhasiat sebagai penurun panas antibiotika, anti radang, peluruh air seni, menghilangkan pembengkakan serta menetralkan racun.

Bagian yang dapat dimanfaatkan :
Seluruh bagian tanaman ini, yakni daun, akar, dan batang tanaman dapat digunakan sebagai obat tradisional. Salah satunya sebagai pemacu gairah seksual sehingga tanaman ini dikenal dengan sebutan Viagra Jawa. Pasalnya, tanaman ini mengandung senyawa stigmaterol yang membentuk hormon progesteron, hormon pemacu gairah.

 Penyakit yang dapat disembuhkan :
Berdasarkan berbagai literatur yang mencatat pengalaman secara turun-temurun dari berbagai negara dan daerah, tanaman ini dapat menyembuhkan penyakit-penyakit sebagai berikut :
1. Hepatitis. 120 - 180 gram akar segar direbus dengan daging, minum selama 4 - 5 hari.
2. Biri-biri. 30- 60 gram seluruh tanaman tambah 60 - 120 gram tahu dan air secukupnya di tim, makan.
3. Perut kembung. Batang tapak liman 60 gram, direbus, bagi 2 kali minum.
4. Influenza, demam, peradangan amandel, radang tenggorok, radang mata. Tanaman kering 15 - 30 gram direbus. (Saran 3x2 kapsul per hari)
5. Dysentery, diare, gigitan ular Tanaman kering 15 - 30 gram direbus. (Saran 3x3 kapsul per hari, banyak minum)
6. Epidemic encephalitis, batuk seratus hari (pertusis). Tanaman kering 15 - 30 gram direbus. (Saran 3x2 kapsul per hari, banyak minum)
7. Radang ginjal yang akut dan kronis. Tanaman kering 15 - 30 gram direbus. (Saran 3x2 kapsul per hari, banyak minum)
8. Kurang darah, Tanaman kering 15 - 30 gram direbus. ( Saran 3x2 kapsul per hari)
9. Radang rahim, keputihan. Tanaman kering 15- 30 gram direbus. Atau tiga batang tanaman+akar direbus 3 gelas air tinggal 2 gelas, minum sehari 2 kali satu gelas.(Saran 3x2 kapsul per hari, banyak minum)
10. Mempermudah proses kelahiran, pengobatan sesudah bersalin. Tanaman kering 15-30 g. direbus.
11. Pelembut kaki, peluruh dahak, peluruh haid, pembersih darah Tanaman kering 15 - 30 g. direbus.
12. Meningkatkan gairah pria yang terganggu sakit pinggang. Tiga batang tanaman bersama akarnya dimasukkan ke dalam 3 gelas air. Kemudian direbus sampai tinggal 2 gelas, minum sehari 2 kali satu gelas.
DAFTAR RUJUKAN



Minggu, 25 Desember 2011

REFLEKSI KELOMPOK 7


KOMUNITAS (VEGETASI)

Materi ini disampaikan oleh kelompok 7 yang beranggotakan Lysa Ulva k, Atia yulvianita, Dian shofatin dan Dimas Widya.Hal hal yang dibahas dalam kelompok ini meliputi : Konsep dasar komunitas (vegetasi) : formasi, assosiasi, ekotone . Interaksi dalam komunitas : karakteristik komunitas tumbuhan, keanekaragaman. struktur dan komposisi komunitas. Dominansi.
Dari konsep materi yang telah diberikan oleh pemateri hal yang saya dapat pahami adalah sebagai berikut : Formasi merupakan pola tata letak suatu tumbuhan penyususn vegetasi yang telah disusun oleh alam ataupun iklim yang terjadi dalam suatu lingkungan. Assosiasi merupakan vegetasi lokal atau vegetasi yang terdapat dalam komunitas tersebut. Sedangkan ekoton ialah peralihan antar dua komunitas. Selanjutnya dijelaskan tentang interaksi dalam komunitas, yang terdiri dariinteraksi yang sifatnya erat dan tidak erat.
Kelompok ini membuka dua pertanyaan, pertanyaan yang pertama datang dari saudari Martha N laili tentang penjelaasan yang lebih mendetail tentang penjelasan interaksi yang erat dan tidak erat?. Pemateri menjawab jika suatu interaksi interaksi yang terjadi dalam komunitas dikatakan erat maka akan terjadi interaksi menguntungkan ke dua belah pihak apabila interaksi tersebut tidak terjadi atau kurang erat maka tidak akan merugikan keduanya tetapi akan terjadi ketidakseimbangan dalam komunitas, dan apabila pada keadaan yang netral akan menguntungkan kedua belah pihak. Dalam hal ini pemateri mencontohkan tentang interaksi yang erat sebagai contoh adalah peristiwa predasi (memangsa organisme lain).
 Dalam hal ini saya berpendapat bahwa  suatu interaksi dikatakan erat jika terjadi saling ketergantungan dari komunitas ataupun antar spesies baik yang bersifat menguntungkan ataupun merugikan, jadi interaksi yang semacam ini lebih sering terjadi didalam suatu komunitas, dapat saya berikan contoh adalah interaksi antar tumbuhan yang berdekatan akan berebut unsur hara didalam tanah untuk kebutuhan proses foto sintesis, dalam hal ini interaksi antar komunitas tersebut terjadi setiap harinya, sebab seperti yang kita ketahui tumbuhan melakukan proses  fotosintesis untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, seperti contoh lain tentang predasi yang telah dicontohkan oleh pemateri yang berhubungan dengan rantai makanan serta peristiwa alelopati pada sebagian tanaman. Sedangkan interaksi yang tidak erat dapat saya artikan sebagai suatu interaksi antar komunitas yag tidak terjadi saling ketergantungan pada tiang anggotanya serta dalam periode yang relative singkat seperti tumbuhan melakukan penyerbukan yang dibantu oleh tumbuhan lain dalam komunitas yang berdektan atau dapat disebut juga sebagai penyerbukan tetangga. Walaupun hubungan nya dapat namun intensitas waktunya relative singkat terjadi pada saat saat tertentu saja.
Pertanyaan kedua dari saudari Nani kusmiati  tentang formasi, asosiasi dan ekoton. Pemateri menjawab bahwa Formasi merupakan pola tata letak suatu tumbuhan penyusun vegetasi yang telah disusun oleh alam ataupun iklim yang terjadi dalam suatu lingkungan. Assosiasi merupakan vegetasi lokal atau vegetasi yang terdapat dalam komunitas tersebut. Sedangkan ekoton ialah peralihan antar dua komunitas. Saudara hendi menambahkan tentang ekoton, menurutnya ekoton merupakan pertemuan antara dua komunitas yang berbeda dan menunjukkan sifat yang khas (batasan komunitas) misal ada daerah yang subur lalu terpisah akibat larva dari gunung berapi kemudian terbentuk komunitas baru didaerah larva yang sudah dingin. Sedang daerah yang berada diantara komintas lama (yang tidak terkena larva) dengan komunitas baru (pada daerah larva) adalah komunitas batasan atau disebut juga sebagai ekoton.
untuk pertanyaan yang kedua saya setuju dengan pendapat pemateri.
Diskusi selanjutnya akan dilanjutkan oleh kelompok 8 akan membahas tentang metode analisis vegetasi yang tekniknya yaitu teknik kuadrat, garis, titik, kuarter, dan teknik ordinasi. Karena materi ini juga sudah dipraktikumkan semoga pemateri lebih baik lagi presentasinya dari kelompok sebelumnya